..Ayo podo nulis,tuker-tuker informasi,merentang jarak menjalin kerabat...

Rabu, 30 April 2008

Naruto



Kamu tahu nggak tentang Naruto. Itu loh seorang ninja kecil yang menjadi favorit anak-anak sekarang termasuk anakku.

Aku tahu naruto juga dari anakku. Kami kadang-kadang bercerita tentang naruto. Bagaimana dia bisa mempunyai ilmu kembar, atau bagaimana dia bisa menjadi seorang ninja yang hebat.

Naruto seperti halnya Cimi ataupun Kenji atau hero2 yang lain, kebanyakan diceritakan sebagai seorang sosok yang tidak kenal menyerah. Tidak ada kata putus asa dalam kamus hidupnya. Ketika dia punya keinginanan atau cita-cita, dia akan berjuang sepenuh hati dan tenaga untuk mewujudkannya. Dan hampir kebanyakan keinginannya bisa dicapai walaupun dengan banyak luka dibadannya.

So apa yang bisa kita tiru dari Naruto ini. Tentu bukan dandanannya, bisa-bisa orang bingung liat kita, Naruto koq kayak gini sih?!!!

Kita bisa niru semangat dan usahanya.

Kawan, disaat kondisi sedang sulit ini, kita memang butuh semangat dan energi extra untuk bisa menjalaninya. Bahkan saking sulitnya seorang pengamen (langanan ku yang biasa tuker uang receh) sempat mengeluh karena penghasilannya menurun cukup draktis. Banyak juga pelangganku yang sakit tidak segera sembuh yang memilih mengobati dengan membeli obat bebas, bahkan kadang2 mereka lebih suka konsultasi kepadaku dari pada ke dokter yang menjadi terasa mahal ongkosnya.

Tapi percayalah ketika kita menjalani kehidupan sekarang yang sulit ini dengan semangat dan energi seperti naruto, aku yakin banyak hal akan bisa diatasi, dan mudah2 an Allah swt memberi kemudahan kepada kita.
SELAMAT BERJUANG KAWAN...! Yakinlah Naruto masih tetep main di Global TV setiap hari (Lho pie to iki?)
NB : Tengyu buat mbak Wel yang dulu sering minjami aku komik Cimi Kungfu Boy, yang membuat semangat ku bisa berkobar kembali ketika mlempem.
Tengyu juga buat mas Kurnia yang mau gantian membaca komik Cimi pinjaman dari mbak WEl.

Oleh-oleh dari Batam (Bag 2)

Aku berangkat ke Batam sendirian. Soalnya Nyak ame Babe udah duluan berangkat. Aku sebenarnya juga diajak berangkat bareng, tapi karena kuatir terlalu lama di Batam, aku milih berangkat sendiri. Khan aku nggak bisa ninggalin rumah terlalu lama, soale aku belum punya karyawan yang bisa ngejalanin toko obatku.
Waktu berangkat sebenarnya cuaca cerah, bahkan aku masih bisa ngeliat gentent rumahku yang bocor atau lambaian jemuran istriku dari atas. Ditengah perjalanan cuaca tetep cerah, cuma terasa beberapa kali guncangan.
Teman perjalanku kebanyakan masih muda-muda banget. Penampialn mereka khas anak muda, bahkan diantaranya norak banget. Mungkin mereka orang-orang yang mau nyari atau sudah kerja di Batam, yang konon masih banyak banget lowongan pekerjaan, terutama bidang elektronika.
Diatas pulau Batam, kulihat banyak banget bangunan gede yang berkelompok yang ternyata lokasi daerah industri. Dibeberapa tempat aku lihat banyak alat berat sedang ngeruk tanah yang berbukit-bukit.
Begitu turun aku udah disambut oleh seorang saudara. Dengan sepeda motor, aku diajak muter-muter sebelum pulang ke rumah.
Jalanan di Batam lebar-lebar. Sepanjang jalan kebanyakan yang aku lihat cuma pepohonan yang tidak terlalu lebat dan perbukitan tandus. Dibeberapa tempat terlihat beberapa perumahan dan pertokoan. Jadi kayaknya terkotak-kotak.
aku sempat diajak masuk ke daerah industri yang sangat rapi. Jalannya besar-besar namun sepi (waktu itu pas jam kerja, kalau lagi bubaran kerja jalanan rame banget dan kendaran angkutan umum boleh masuk), hanya ada beberapa mobil yang lalu lalang dan beberapa sepeda motor yang nongkrong, katanya sih tukang ojek. Daerah itu lumayan gede, jadi kalau mau jalan ya mungkin kita perlu bawa perbekalan yang cukup tapi nggak perlu bawa tenda ataupun alat masak.
Ada beberapa orang yang sedang nongkrong2, kata guide ku mereka sedang mencari kerja. Disana katanya banyak banget orang yang berpindah-pindah kerja. Bosen di PT ini, tinggal bikin lamaran pindah ke PT itu.
Kalau didalam kota sih nggak ada perbedaan yang mencolok di banding kota2 di Jawa, cuma lebih bersih dan rapi. Tapi begitu keluar dari keramaian sepanjang jalan yang gede dan lebar itu hanya terlihat pohon dan perbukitan. Aku jadi ingat cerita Margono waktu di Kalimantan dia kadang2 harus bawa peralatan tambal ban dan ban serep, karena kalau ban bocor pas jauh dari pemukiman bisa nangis karena harus nuntun sepeda motor.